Orang-orang konservatif nan kolot mendefinisikan pekerja atau orang yang sudah bekerja dengan
- Berpakaian rapi, seperti kemeja, celana bahan, sepatu pantofel, dan sejenis kerapihan lainnya
- Punya jam kerja rutin seperti berangkat pagi pulang sore, dan sejenis rerutinan lainnya.
- Punya kantor berupa bangunan fisik yang memiliki ruangan bermeja, duduk menghadap komputer, karyawan lain sliwar-sliwir sibuk, dan sejenis kehidupan perkantoran pada umumnya.
Lalu apakah anda termasuk orang yang dicap pengangguran karena tidak memiliki pekerjaan dengan ciri2 di atas? Selamat datang bro-sis. Inilah dunia wirausaha.
Ini kisah nyata saya. Dan banyak banget teman2 saya yang mengalami nasib serupa. Saya sendiri mengelola studio rekaman dan menjadi pengajar di sebuah kampus. Sampai berita ini diturunkan (njay) saya sudah 14 tahun menjalankan usaha studio ini.
Dengan waktu sepanjang itu menjadi boss sekaligus karyawan di sebuah usaha yang terletak di rumah sendiri sungguh rawan selentingan negatif. Sudah sering saya dikira pengangguran. Bagaimana tidak, pagi jelang siang orang-orang pada duduk stres di kantor, saya masih di rumah, nyuci motor, duduk-duduk baca koran, kadang terdeteksi sedang berada di lapak mie ayam terdekat.
Sudah sering saya dikira pengangguran. Setiap saya jajan ke warung atau belanja ke toko di jam-jam office hour, seringkali disapa dengan kata-kata "lagi libur nih mas?" Ya saya jawab aja "nggak, ini sambil kerja". Tentu saja doi memandang penuh tidak percaya karena penampilan saya pakai sendal, celana ¾, kaos oblong.
Udah biasa.
Di satu sisi, ini sedihnya menjadi wirausahawan. Dipandang remeh, dipandang mbambung. Kasian orangtua saya.. Dikiranya orangtua saya gagal membuat saya menjadi karyawan kantoran, ga mapan, ndokem bae di rumah. Tapi di sisi lain, ini juga nikmatnya wirausaha. Saya ga perlu ikutan kalian berenang di arus mampet kemacetan nan polusi itu.. Saya ga banyak pengeluaran untuk transportasi, belum lagi biaya ganjen untuk bebajuan dan cecelana-bahanan itu..
Saya ga terjebak di kewajiban bekerja selama office hour tersebut. Kalau saya capek, ya tidur. Kalau saya laper, ya makan. Kalau saya pingin pergi ya pergi aja. Kalau saya mau hari ini libur, ya saya liburan aja. Saya tidak pernah bekerja secara terpaksa, harus setor muka, kiss ass, pura-pura rajin, dll. Mau rajin atau malas, menjadi hak mutlak saya. Kalau saya malas, resikonya ya saldo makin tipis. Kalau saya rajin, dompet saya pun susah dilipet :p
Anyway, baik wirausaha maupun menjadi karyawan kantoran pasti punya kelebihan dan kekurangan masing2 ya. Sebagian besar pekerja kantoran memiliki angka pendapatan yang pasti dan stabil setiap bulannya. Kami tidak. Pendapatan setiap bulan kami berbanding lurus dengan kinerja kami. Kami malas, kami ga makan. Kami giat bekerja, saldo ATM kami pun bengkak.
Sebagian besar pekerja kantoran tidak khawatir tentang nasib perusahaan. Yang penting masuk, lakukan pekerjaan yang disuruh boss, gajian, dan begitu seterusnya. Kami tidak. Kami para wirausahawan, harus putar otak kanan dan kiri untuk improvisasi setiap hari, supaya produk kami laku. Supaya bulan ini ada pemasukan. Supaya tidak dilibas kompetitor.
Sebagian besar pekerja kantoran punya tunjangan2. Kami tidak. Kami para wirausahawan, berjuang sendiri untuk biaya kesehatan kami, cicilan2 kami, kacamata kami, THR kami, sekolah kami, dll.
Tulisan ini bukan mendeskriditkan pekerja kantoran dan melebih2kan wirausaha ya. Tulisan ini ditulis untuk nyentil orang-orang konservatif nan kolot dan kuno yang suka nyinyir, cangkemnya bau kolor firaun yang sembarangan njeplak menjudge seseorang mbambung gara-gara ga pake kemeja dan pergi ke gedung kantoran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar